Diantara
kaum muslimin ada yang tidak mengetahui tentang perbedaan antara
malaikat yang mulia dengan jin dan syaitan. Bahkan penyimpangan sebagian
umat sampai kepada taraf menyamakan antara malaikat dengan jin. Berkata
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah dalam kitab "At Tafsir Al
Kabir" yang disandarkan kepadanya (7/381), "Kaum musyrikin Arab dan ahli
kitab meyakini adanya malaikat meskipun mayoritas mereka menganggap
bahwa malaikat dan syaitan itu merupakan satu jenis. Maka siapa diantara
mereka yang keluar dari ketaatan kepada Allah Subhaanahu wata’aala,
jatuhlah kedudukannya dan menjadi syaitan. "Kaum musyrikin Arab dan ahli
kitab mengingkari bahwa iblis adalah nenek moyang jin dan mengingkari
pula bahwa jin itu menikah, melahirkan, makan dan minum. Bahkan sebagian
orang Arab menyangka bahwa malaikat adalah keturunan jin sebagaimana
yang disebutkan oleh sebagian ahli tafsir.
Penyebutan perbedaan
keduanya bisa membantu kita untuk mengenal malaikat dengan pengenalan
yang benar. Perbedaan-perbedaan tersebut adalah sebagai berikut:
1.
Malaikat diciptakan dari cahaya sedangkan jin diciptakan dari api. Hal
ini ditunjukkan dalam hadits Aisyah Radhiallahu 'anha dalam Shahih
Muslim (2996) dia berkata, "bersabda Rasulullah Shallallohu ‘alaihi
wasallam :
2.
خُلِقَتِ المَلَائِكَةُ مِنْ نُوْرٍ وَخُلِقَ الجَانُّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ
"Malaikat diciptakan dari cahaya dan jin diciptakan dari api yang bercampur dengan hitamnya api."
Ini merupakan perbedaan yang mencolok dalam hal asal penciptaan, terlebih lagi ada perbedaan lain dalam sifat dan perbuatannya.
3.
Nama-nama malaikat berbeda dengan nama-nama jin baik secara global
maupun terperinci. Adapun nama-nama malaikat mengandung makna utusan.
Maka malaikat bermakna para utusan Allah dan nama At Tasyaitan artinya
yang melampaui batas. Nama-nama ini secara global sudah menunjukkan
perbedaan apalagi secara terperinci. Sedangkan Al Iblis berasal dari
kata Al Iblas, artinya yang berputus asa dari rahmat Allah Subhaanahu
wata’aala.
Perhatikanlah nama Jibril, Mikail, Israfil dan yang
lainnya. Engkau mendapati bahwa nama-nama malaikat itu adalah nama- nama
yang indah dan bagus sedangkan nama-nama jin dan syaitan itu jelek.
4.
Para malaikat diciptakan oleh Allah Subhaanahu wata’aala dengan tabiat
selalu taat kepada Allah Subhaanahu wata’aala, dan tidak ada pilihan
bagi malaikat apakah dia mau taat atau tidak. Berbeda dengan jin, dimana
Allah Subhaanahu wata’aala, menjadikan mereka mempunyai pilihan dan
kehendak sebagaimana manusia. Siapa yang ingin beriman, maka dia
memilihnya dan siapa yang ingin kekufuran, maka dia memilihnya. Tatkala
jin diberi pilihan tersebut, banyak dari kalangan mereka yang memilih
kekufuran daripada keimanan.
5. Para malaikat tidak memiliki
syahwat. Oleh karena itu, mereka tidak makan, tidak minum dan tidak
menikah. Adapun para jin, mereka makan, minum, menikah dan yang lainnya.
6.
Para malaikat tidak pernah bermaksiat kepada Allah Subhaanahu
wata’aala, sedikit pun walaupun hanya sekejap mata. Adapun mayoritas jin
adalah kafir bahkan kekufuran pada mereka lebih banyak jika
dibandingkan dengan kekufuran pada manusia. Apa yang tersebar bahwa
Harut dan Marut adalah nama 2 malaikat, tidaklah benar bahkan keduanya
adalah jin. Barangsiapa yang berpendapat bahwa keduanya adalah malaikat,
mereka bersandar pada kisah-kisah Israiliyyat yang tidak bisa dijadikan
sebagai sandaran dan tidak bisa ditegakkan sebagai hujjah serta tidak
ada satu pun hadits shahih tentang hal ini.
7. Malaikat jauh lebih kuat daripada jin.
Senin, 02 Juli 2012
Jauhi Sifat Munafik
Di awal surat Al-Baqarah, Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan tiga golongan manusia:
1. Kaum mukminin
2. Orang-orang kafir
3. Orang-orang munafik
Allah Subhanahu wa Ta’ala membeberkan kepada kaum mukminin di dalam ayat-ayat tersebut tentang kebusukan hati orang-orang munafik dan permusuhan mereka kepada kaum mukminin.
Allah Subhanahu wa Ta’ala menerangkan bahwa mereka adalah orang-orang yang berbuat kerusakan namun mengklaim sebagai orang yang melakukan perbaikan:
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ. أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَكِنْ لَا يَشْعُرُونَ
Apabila dikatakan kepada mereka, “Janganlah kalian melakukan kerusakan di muka bumi.” Maka mereka berkata, “Kami hanyalah orang-orang yang melakukan perbaikan.” Ketahuilah, mereka adalah umat yang melakukan kerusakan namun mereka tidak mengetahuinya. (Al-Baqarah: 11-12)
Mereka adalah orang-orang dungu. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ ءَامِنُوا كَمَا ءَامَنَ النَّاسُ قَالُوا أَنُؤْمِنُ كَمَا ءَامَنَ السُّفَهَاءُ أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ السُّفَهَاءُ وَلَكِنْ لَا يَعْلَمُونَ
Apabila dikatakan kepada mereka, “Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman.” Mereka menjawab, “Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?” Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh (dungu), tetapi mereka tidak tahu. (Al-Baqarah: 13)
1. Kaum mukminin
2. Orang-orang kafir
3. Orang-orang munafik
Allah Subhanahu wa Ta’ala membeberkan kepada kaum mukminin di dalam ayat-ayat tersebut tentang kebusukan hati orang-orang munafik dan permusuhan mereka kepada kaum mukminin.
Allah Subhanahu wa Ta’ala menerangkan bahwa mereka adalah orang-orang yang berbuat kerusakan namun mengklaim sebagai orang yang melakukan perbaikan:
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ. أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَكِنْ لَا يَشْعُرُونَ
Apabila dikatakan kepada mereka, “Janganlah kalian melakukan kerusakan di muka bumi.” Maka mereka berkata, “Kami hanyalah orang-orang yang melakukan perbaikan.” Ketahuilah, mereka adalah umat yang melakukan kerusakan namun mereka tidak mengetahuinya. (Al-Baqarah: 11-12)
Mereka adalah orang-orang dungu. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ ءَامِنُوا كَمَا ءَامَنَ النَّاسُ قَالُوا أَنُؤْمِنُ كَمَا ءَامَنَ السُّفَهَاءُ أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ السُّفَهَاءُ وَلَكِنْ لَا يَعْلَمُونَ
Apabila dikatakan kepada mereka, “Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman.” Mereka menjawab, “Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?” Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh (dungu), tetapi mereka tidak tahu. (Al-Baqarah: 13)
Iblis Laknatullah bag 1
Waspadalah oleh bisikan setan
Di dalam salah satu ayat Al-Qur’an, Allah Ta’ala berfirman (artinya) : “(Iblis) berkata : “Berikanlah aku waktu tangguh (untuk menyesatkan manusia) sampai mereka (manusia) dibangkitkan (pada hari kiamat).
(Allah) berkata : “Sesungguhnya engkau diberi waktu tangguh. (Iblis) berkata : ” Karena Engkau telah menentukan aku tersesat maka sungguh aku akan benar-benar menghalangi mereka (manusia) dari jalan-Mu yang lurus. Lalu aku akan benar-benar mendatangi mereka dari arah depan, belakang, sebelah kanan, dan sebelah kiri, lantas Engkau tidak mendapati kebanyakan mereka bersyukur (kepada-Mu).” [Al A'raaf : 14-17].
Para pembaca yang semoga dirahmati oleh Allah, bila kita memperhatikan ayat di atas maka kita bisa memetik pelajaran berharga, diantaranya :
1. Iblis -la’natullahi ‘alaihi- diberi usia yang sangat panjang oleh Allah Ta’ala untuk menyesatkan anak cucu Adam ‘alaihis salaam sampai hari kebangkitan (hari kiamat).
2. Iblis tidak ingin dirinya saja yang tersesat, sehingga ia berupaya keras untuk manusia juga tersesat dari jalan Allah.
3. Iblis sangat bersemangat untuk memusuhi manusia yang berada di atas jalan Allah agar mereka menyimpang dari jalan tersebut.
4. Iblis memiliki banyak cara untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah.
5. Iblis memperkirakan bahwa kebanyakan manusia justru tersesat dari jalan Allah. Di dalam ayat yang lain, Allah berfirman (artinya): ” .. sungguh, bila Engkau beri aku waktu tangguh, niscaya aku akan benar-benar menyesatkan keturunannya (Nabi Adam) kecuali sebagian kecil saja.” [Al Israa' : 62]
Lalu tepatkah dugaan Iblis tersebut? Allah Ta’ala berfirman (artinya) : ” Dan sungguh ia (syaithan) telah menyesatkan banyak orang di antara kalian. Apakah kalian tidak memikirkannya?” [Yaasiin : 62]
Dia Ta’ala juga berfirman (artinya) :
“Dan sungguh Iblis benar-benar membuktikan kebenaran dugaannya terhadap mereka (manusia). Maka mereka mengikutinya kecuali sebagian dari orang-orang beriman.” [Saba' : 20]
Iblis Mengetahui Kelemahan Manusia
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda (artinya):
“Tatkala Allah menciptakan bentuk Adam di surga (Al-Jannah), Allah membiarkannya sesuai kehendak-Nya. Lalu Iblis mengitari Adam dan mengamatinya. Tatkala ia tahu bahwa Adam memiliki rongga, maka ia tahu bahwa Adam dicipta dalam keadaan tidak memiliki kekuatan.” [H.R Muslim]
Sebagian ulama menyebutkan makna hadits tersebut bahwa manusia –dirinya semata tanpa ada kekuatan dari Allah- tidak memiliki kekuatan untuk menghadapi bisikan syaithan.
Bisikan Syaithan Merupakan Sumber Kejelekan
Di dalam salah satu ayat Al-Qur’an, Allah Ta’ala berfirman (artinya) : “(Iblis) berkata : “Berikanlah aku waktu tangguh (untuk menyesatkan manusia) sampai mereka (manusia) dibangkitkan (pada hari kiamat).
(Allah) berkata : “Sesungguhnya engkau diberi waktu tangguh. (Iblis) berkata : ” Karena Engkau telah menentukan aku tersesat maka sungguh aku akan benar-benar menghalangi mereka (manusia) dari jalan-Mu yang lurus. Lalu aku akan benar-benar mendatangi mereka dari arah depan, belakang, sebelah kanan, dan sebelah kiri, lantas Engkau tidak mendapati kebanyakan mereka bersyukur (kepada-Mu).” [Al A'raaf : 14-17].
Para pembaca yang semoga dirahmati oleh Allah, bila kita memperhatikan ayat di atas maka kita bisa memetik pelajaran berharga, diantaranya :
1. Iblis -la’natullahi ‘alaihi- diberi usia yang sangat panjang oleh Allah Ta’ala untuk menyesatkan anak cucu Adam ‘alaihis salaam sampai hari kebangkitan (hari kiamat).
2. Iblis tidak ingin dirinya saja yang tersesat, sehingga ia berupaya keras untuk manusia juga tersesat dari jalan Allah.
3. Iblis sangat bersemangat untuk memusuhi manusia yang berada di atas jalan Allah agar mereka menyimpang dari jalan tersebut.
4. Iblis memiliki banyak cara untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah.
5. Iblis memperkirakan bahwa kebanyakan manusia justru tersesat dari jalan Allah. Di dalam ayat yang lain, Allah berfirman (artinya): ” .. sungguh, bila Engkau beri aku waktu tangguh, niscaya aku akan benar-benar menyesatkan keturunannya (Nabi Adam) kecuali sebagian kecil saja.” [Al Israa' : 62]
Lalu tepatkah dugaan Iblis tersebut? Allah Ta’ala berfirman (artinya) : ” Dan sungguh ia (syaithan) telah menyesatkan banyak orang di antara kalian. Apakah kalian tidak memikirkannya?” [Yaasiin : 62]
Dia Ta’ala juga berfirman (artinya) :
“Dan sungguh Iblis benar-benar membuktikan kebenaran dugaannya terhadap mereka (manusia). Maka mereka mengikutinya kecuali sebagian dari orang-orang beriman.” [Saba' : 20]
Iblis Mengetahui Kelemahan Manusia
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda (artinya):
“Tatkala Allah menciptakan bentuk Adam di surga (Al-Jannah), Allah membiarkannya sesuai kehendak-Nya. Lalu Iblis mengitari Adam dan mengamatinya. Tatkala ia tahu bahwa Adam memiliki rongga, maka ia tahu bahwa Adam dicipta dalam keadaan tidak memiliki kekuatan.” [H.R Muslim]
Sebagian ulama menyebutkan makna hadits tersebut bahwa manusia –dirinya semata tanpa ada kekuatan dari Allah- tidak memiliki kekuatan untuk menghadapi bisikan syaithan.
Bisikan Syaithan Merupakan Sumber Kejelekan
Iblis Laknatullah bag 2
Waspadalah oleh bisikan syeitan
Asy-Syaikh Muhammad Al Imam hafizhahullah menyebutkan macam- macam bisikan syaithan/ jin terhadap orang-orang yang beriman, diantaranya:
1. Membuat keraguan tentang dzat Allah.
Dalam sebuah hadits, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam pernah bersabda (artinya): “Sesungguhnya salah seorang dari kalian didatangi syaithan dan bertanya:”Siapa yang menciptakan engkau?” Maka orang tersebut menjawab :”Allah”. Lalu syaithan bertanya lagi :”Lantas siapa yang menciptakan Allah?!” Apabila salah seorang diantara kalian menjumpai pertanyaan seperti itu maka katakanlah : “Aku beriman kepada Allah dan rasul-Nya”, karena hal itu akan menghilangkan pertanyaan tadi.” [Ash Shahihah 116]
Dalam riwayat lain :”Maka hendaklah kalian ucapkan “Allahu Ahad. Allahush Shamad.Lam yalid wa lam yuulad. Wa lam yakul lahu kufuwan ahad.” Kemudian meludahlah ke sebelah kiri 3x dan berlindung kepada Allah dari bisikan syaithan.” [H.R Abu Dawud dan dihasankan asy-Syaikh Al Albani].
2. Bisikan syaithan kepada sebagian kaum muslimin agar mereka menjadi tukang sihir, dukun, ahli nujum atau semisalnya. Allah Ta’ala berfirman (artinya) : ”…mereka (para syaithan), mengajari sihir kepada manusia…” [Al Baqarah:102].
3. Bisikan syaithan terhadap seorang muslim agar terjatuh kepada perbuatan syirik kepada Allah.
Allah Ta’ala berfirman (artinya) :” Dan mereka (kaum Nabi Nuh) berkata:”Janganlah kalian meninggalkan sesembahan-sesembahan kalian. Janganlah sekali-kali meninggalkan Wadd, Suwaa’, Yaghuts, Ya’uuq dan Nar.” [Nuuh :23]
Kesalahan dalam Sholat
Kesalahan dalam Sholat
Diantara kesalahan sholat yang banyak tersebar di masyarakat, adanya sebagian orang yang terdiam bisu, tanpa membaca sesuatu apapun di antara dzikir-dzikir dan bacaan-bacaan dalam sholat, baik itu berupa takbir, bacaan surat, dzikir ruku’, dzikir sujud, tasyahhud, dan lainnya. Orang-orang yang semodel ini, hanya mencukupkan diri dengan bacaan dalam hati; seakan-akan sholat itu hanyalah gerakan belaka, tanpa disertai ucapan. Parahnya lagi, sampai ada orang yang berpendapat seperti ini menyatakan bahwa boleh seseorang memulai sholatnya tanpa takbir!! Diantara orang yang berpendapat demikian adalah Abu Bakr Al-Ashom Al-Mu’taziliy (pengikut aliran sesat Mu’tazilah), dan Ibrahim bin Isma’il bin Ulayyah Al-Jahmiy [Lihat Bada'iush Shona'i (1/455 & 2/22) karya Al-Kaasaaniy]
Mereka beralasan bahwa firman Allah,
"Dan Dirikanlah shalat…"(QS. Al-Baqoroh : 43)
Menurut mereka bahwa ayat ini sifatnya global, dan telah dijelaskan oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dengan perbuatannya. Karena itu, Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي
"Sholatlah kalian melihat aku sholat". [HR. Al-Bukhoriy dalam Kitab Al-Adzan (631)]
Kata mereka bahwa yang terlihat adalah perbuatan (gerakan), bukan ucapan. Jadi, sholat itu adalah nama bagi perbuatan-perbuatan (gerakan) saja!! Oleh karenanya, orang yang berpendapat demikian menyatakan bahwa kewajiban sholat gugur bagi seseorang yang tidak mampu melakukan gerakan-gerakan, walaupun ia mampu berdzikir. Jika ia mampu bergerak, dan hanya berdzikir dalam hati, maka kewajiban sholat tidak gugur darinya.
Demikian pendapat yang dinyatakan oleh Abu Bakr Abdur Rahman bin Kaisan Al-Ashom, seorang ahli bid’ah beraliran Mu’tazilah. Lalu diikuti pendapat ini oleh muridnya, Ibrahim bin Isma’il bin Ulayyah. Si murid ini juga ahli bid’ah dari kalangan Jahmiyyah.
Al-Hafizh Ibnu Abdil Barr Al-Andalusiy -rahimahullah- berkata, "Dia (Ibrahim bin Isma’il bin Ulayyah) memiliki banyak keganjilan, sedang pendapat-pendapatnya di sisi Ahlus Sunnah ditinggalkan; tak ada satu pendapatnya pun yang dianggap khilaf (yakni, tak ada nilainya)". [Lihat Lisan Al-Mizan (1/15)]
Hukum Melafadzkan Niat
Hukum Melafadzkan Niat ketika Sholat
Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi‘i
rahimahullah ditanya:
“Apakah melafadzkan niat termasuk perkara yang diada-adakan dalam agama (bid‘ah), sementara di dalam kitab Al-Umm disebutkan keterangan hal ini secara samar (yakni niat harus dilafadzkan)? Jelaskan pada kami tentang permasalahan ini.
Jawab: Melafadzkan niat teranggap sebagai perbuatan yang diada-adakan dalam agama (bid‘ah), sementara Allah I telah berfirman dalam Kitab-Nya yang mulia:
“Katakanlah: Apakah kalian akan memberitahukan kepada Allah tentang agama kalian?” (Al-Hujurat:16)
Nabi r bersabda kepada orang yang salah shalatnya:
“Apabila engkau berdiri untuk shalat, maka bertakbirlah.”
Di sini beliau tidak mengatakan kepada orang tersebut: “Katakanlah: () aku berniat” (sebelum mengucapkan takbir).
Ketahuilah bahwa ibadah shalat, wudhu`, dan juga ibadah-ibadah yang lainnya memang tidak sah kecuali dengan niat. Oleh karena itu dalam pelaksanaan ibadah seluruhnya haruslah ada niat, berdasarkan sabda Rasulullah r:
Namun perlu diketahui, tempat niat itu di hati dan keliru apabila dikatakan bahwa di dalam kitab Al-Umm disebutkan tentang melafadzkan niat. Ini salah, bahkan hal ini tidak ada di dalam kitab Al-Umm tersebut. (Ijabatus Sa-il, hal. 27)
Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah t:
Nabi r bila berdiri untuk shalat, beliau langsung mengucapkan takbiratul ihram dan tidak mengucapkan apa pun sebelumnya, juga tidak melafadzkan niat sama sekali. Beliau juga tidak mengatakan:
Aku tunaikan untuk Allah shalat ini dengan menghadap kiblat empat rakaat sebagai imam atau makmum.
Demikian pula ucapan () atau () ataupun ().
“Apakah melafadzkan niat termasuk perkara yang diada-adakan dalam agama (bid‘ah), sementara di dalam kitab Al-Umm disebutkan keterangan hal ini secara samar (yakni niat harus dilafadzkan)? Jelaskan pada kami tentang permasalahan ini.
Jawab: Melafadzkan niat teranggap sebagai perbuatan yang diada-adakan dalam agama (bid‘ah), sementara Allah I telah berfirman dalam Kitab-Nya yang mulia:
“Katakanlah: Apakah kalian akan memberitahukan kepada Allah tentang agama kalian?” (Al-Hujurat:16)
Nabi r bersabda kepada orang yang salah shalatnya:
“Apabila engkau berdiri untuk shalat, maka bertakbirlah.”
Di sini beliau tidak mengatakan kepada orang tersebut: “Katakanlah: () aku berniat” (sebelum mengucapkan takbir).
Ketahuilah bahwa ibadah shalat, wudhu`, dan juga ibadah-ibadah yang lainnya memang tidak sah kecuali dengan niat. Oleh karena itu dalam pelaksanaan ibadah seluruhnya haruslah ada niat, berdasarkan sabda Rasulullah r:
Namun perlu diketahui, tempat niat itu di hati dan keliru apabila dikatakan bahwa di dalam kitab Al-Umm disebutkan tentang melafadzkan niat. Ini salah, bahkan hal ini tidak ada di dalam kitab Al-Umm tersebut. (Ijabatus Sa-il, hal. 27)
Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah t:
Nabi r bila berdiri untuk shalat, beliau langsung mengucapkan takbiratul ihram dan tidak mengucapkan apa pun sebelumnya, juga tidak melafadzkan niat sama sekali. Beliau juga tidak mengatakan:
Aku tunaikan untuk Allah shalat ini dengan menghadap kiblat empat rakaat sebagai imam atau makmum.
Demikian pula ucapan () atau () ataupun ().
Melafadzkan niat ini termasuk perbuatan yang diada-adakan dalam agama (bid’ah). Tidak ada seorang pun yang menukilkan hal tersebut dari Nabi r baik dengan sanad yang sahih, dha’if, musnad (bersambung sanadnya) atau pun mursal (terputus sanadnya). Bahkan tidak ada nukilan dari para shahabat. Begitu pula tidak ada salah seorang pun dari kalangan tabi’in maupun imam yang empat yang menganggap baik hal ini.
Keajaiban Darah Manusia
Keajaiban Darah Manusia
Sebuah penelitian dilakukan oleh pakar EFT untuk menunjukkan bagaimana
kondisi darah manusia disaat normal, sedih, gembira, jatuh cinta dan saat
berdoa.
EFT itu sendiri apa sih??? Untuk lebih jelasnya silahkan baca disini.
Oke, kita lanjutkan saja. Pakar EFT tersebut
mengambil sampel darah seorang pasien (Rebecca) kemudian memotretnya dengan
menggunakan “darkfield microscope” yang dihubungkan dengan
monitor komputer. Dan tampaklah perubahan drastis pada darah Rebecca tersebut
setiap kali emosinya berubah. Berikut ini adalah foto darah seorang Rebecca
sebelum dan sesudah melakukan EFT.
Sebelum melakukan EFT
( sel darah merah menggumpal disebabkan oleh Lectin
yang didapat dari alergi ayam & alpukat )
Sesudah melakukan EFT
( sel darah merah menjadi normal kembali )
Kemudian Rebecca melakukan EFT lagi dan mengundang emosi “sedih” dengan
cara memikirkan saat-saat sedih sampai dia menangis, lalu sang pakar EFT ( Dr.
Felicy) mengambil sampel darahnya lagi.
Kondisi darah saat sedih ( sel darah begerak cepat dan berbentuk air mata )
Lalu Rebecca menggunakan EFT untuk mengundang energi “cinta” untuk
memasuki tubuh dan darahnya. Dan seketika darahnya kembali normal, dan sel-sel
darah bergerak dengan indah dan timbul substansi yang berkilauan dalam cairan
darah.
Kondisi darah saat merasakan cinta :
( sel darah bergerak pelan dan cenderung berkumpul )
Satu kenyataan menarik
pada sampel darah saat “sedih” terjadi perubahan seperti pada sampel darah saat
“merasakan cinta”. Jadi walaupun darah itu sudah meninggalkan tubuh Rebecca ia tetap masih
berhubungan dengan pemiliknya.
Kemudian seorang Rebecca mengundang rasa takut dan memikirkan kejadian
menakutkan yang pernah ia alami. Dan sel-sel dalam darahnya bergerak tidak
beraturan dengan sangat cepat (ditunjukkan pada gambar dibawah dimana terlihat
sel-sel darah saling berjatuhan). Mungkin ini adalah akibat dari produksi
adrenalin sebagai reaksi normal atas rasa takut.
Kondisi darah saat merasa takut
Lalu Rebecca mecoba untuk memikirkan “sifat feminine Tuhan”. Dalam
keyakinan agamanya ia sebut “divine mother”, sifat penyayang, penyantun dan
pemelihara ( dalam islam disebut sifat “Jamaliah” Allah). Dan memohon
kepada-Nya untuk menyalurkan energi feminine itu kedalam tubuh dan darahnya.
Saat berdoa tersebut, Rebecca merasakan seperti ini “saya merasakan gelombang
energi yang begitu besarnya menyelimuti diri saya, saya sampai menangis bahagia
karenanya”, begitu Rebecca tersebut menggambarkan pengalamannya.
Saat sampel darah Rebecca diambil setelah berdoa dan merasakan
pengalaman religius itu, kemudian dilihatkan dibawah mikroskop yang dihubungkan
dengan komputer, semua yang hadir dilaboratorium itu seketika terdiam dan
terpana karena melihat komdisi darah yang sama sekali berbeda dengan yang lain,
cairah darahnya sangat cerah, gerakan sel darah sangat tenang seakan bergerak
dengan penuh kedamaian, muncul banyak substansi yang berkilauan. Di dalam sel
darah terdapat substansi yang bercahaya dan berdenyut seperti denyutan jantung
mini.

Kondisi darah saat
“berdo’a”
(timbul substansi putih berkilauan dan darah bergerak
pelan dan sangat teratur)
Langganan:
Postingan (Atom)



