Rabu, 21 Maret 2012

Pusat Nol Derajat Sesungguhnya

Pusat Nol Derajat

Dimanakah sesungguhnya pusat nol derajat atau lokasi perputaran bumi? Banyak orang meyakini bahwa kota Greenwich, salah satu kota di Inggris, merupakan pusat nol derajat. Benarkah demikian?
Untuk sementara, tampaknya jawaban itu benar. Sebab, belum ada pihak-pihak yang menggantinya dengan nama baru. Greenwich dipercaya dan disepakati oleh banyak ilmuwan perbintangan (ahli astronomi) sebagai pusat nol derajat sebagai awal perhitungan waktu atau disebut Greenwich Mean Time (GMT) pada 1884.

Penetapan kota Greenwich sebagai mula perhitungan waktu, menurut geolog Mesir Dr Zaglur Najjar yang juga dosen ilmu bumi di Wales University, Inggris, tidak terlepas dari pengaruh Inggris pada kala itu yang merupakan kekuatan kolonial super power dunia.

Pada masa itu, hampir semua wilayah di dunia ini berada di bawah kekuasaan Inggris. Pengaruh Inggris terhadap negara-negara bekas jajahannya hingga kini bisa dilihat dengan adanya perkumpulan negara-negara persemakmuran Inggris (Commonwealth).
Dari Greenwich-lah, bumi dibagi menjadi garis-garis bujur imajiner. Setiap 15 derajat sama dengan satu jam. Dan, setiap 15 derajat dari sana dihitung berbeda satu jam dalam hitungan 24 jam. Perhitungan hari dan penanggalan internasional pun bermula dari bujur yang berjarak 180 derajat dari Greenwich.
Perbedaan waktu setiap belahan bumi juga bisa dihitung berdasarkan posisi kita digaris bujur. Karena satu putaran bumi itu memakan waktu 24 jam, perbedaan waktu satu jam adalah pada 360 derajat/24= 15 derajat garis bujur. Artinya, setiap tempat yang memiliki perbedaan posisi bujur sebesar 15 derajat akan memiliki perbedaan waktu satu jam. Inilah pembagian zona yang dirintis oleh orang kanada, Sir Stanford 

 
Fleming (1827-1915).

Sebagai contoh, Indonesia dari Greenwich terletak di 95 derajat bujur timur (BT) sampai 141 derajat BT. Jika dihitung dari garis nol derajat (Greenwich), posisi di 95 derajat BT ini memiliki perbedaan waktu sebanyak 95 derajat/15 derajat= tujuh jam lebih awal dari waktu di Greenwich. Jika di London tepat tengah malam, di Jakarta adalah sudah pukul tujuh pagi atau bisa juga disebut saat itu di Jakarta adalah  pukul +7 GMT.

Namun, kadang ada negara yang tetap menggunakan patokan waktu berdasarkan kepentingan. Misalnya, Singapura. Negara ini secara geografis masuk dalam wilayah Indonesia bagian barat, namun perhitungan waktunya adalah mengikuti aturan Indonesia bagian tengah. Hal ini disebabkan Singapura menyesuaikan waktu dengan Hongkong demi keseragaman waktu perekonomiannya. Negara Cina yang terbentang begitu luas sehingga seharusnya memiliki lebih dari empat zona waktu malah lebih memilih satu zona waktu saja.

Mekah sebagai pengganti GMT.

April tahun 2008, di Doha, Qatar, berlangsung hajatan ilmiah penting bagi dunia islam. Sejumlah ilmuwan dan ulama Islam berkumpul dan berdiskusi adanya kemungkinan peralihan perhitungan waktu yang sudah baku selama ini, dari mengacu pada GMT sebagai meridian nol, berganti menjadikan Mekah sebagai awal mula perhitungan waktu.

Hasil konferensi itu menghimbau umat Islam sedunia untuk menjadikan Mekah-Ka'bah yang berada di 21 derajat 25 menit lintang utara dan 39 derajat 50 menit bujur timur, sebagai titik awal perhitungan waktu. Alasannya sederhana, yaitu Mekah, menurut kajian ilmiah, adalah 'pusat bumi.'
Kajian itu dilakukan oleh Prof Dr Hosien Kamal El Din Ibrahim, ilmuwan asal Mesir, yang dipublikasikan di The Egyptian Scholars of The Sun and Space Research Center. Pusat penelitian yang berpusat di Kairo, Mesir, itu membuat peta baru dunia. Dalam peta dunia itu, terlukis garis yang ditarik dari kota-kota di penjuru dunia ke arah Mekah. Dengan menggunakan perkiraan matematika dan kaidah spherical triangle (segitiga bola), Hosien menyimpulkan kedudukan Mekah berada di tengah-tengah darata bumi.
Mekah, tempat Ka'bah berada, disimpulkan merupakan 'pusat bumi.' Ini sekaligus membuktikan bahwa bumi berkembang dari Mekah. Sebagaimana lazim diketahui bahwa setiap tahun jutaan umat Islam sedunia mendatangi Ka'bah di Mekah untuk melaksanakan ibadah haji. Dalam salah satu proses ibadah haji yaitu towaf, jutaan umat islam mengelilingi Ka'bah dengan arah berlawanan arah jarum jam. Arah itu bertentangan dengan lazimnya perputaran waktu sesuai perhitungan Greenwich.
Penelitian menggunakan program komputer oleh Hosien, sebelumnya, juga pernah dilakukan dengan perhitungan matematika sederhana oleh ilmuwan Islam, Abi Fadlallah Al Emary, yang meninggal pada 749 H. Peta itu kemudian diabadikan-nya dikitabnya yang berjudul Masalik Al Absar Fi Mamalik Al Amsar. Peta yang melukiskan arah kiblat Mekah juga dibuat oleh pemikir Islam, Al safaksy (meninggal pada 958 H), yang menggunakan perhitungan astronomi. Hasil kajian dua ilmuwan itu juga membuktikan bahwa Mekah adalah 'pusat bumi.'

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

..:: Perhatian !! terima kasih atas kunjungannya, jangan lupa kalau mau copy/paste harap cantumkan sumbernya by http://www.koarhan.blogspot.com dan blog ini setiap minggunya akan di update, Attention! thank you for visiting, do not forget to come back again and if you copy / paste please indicate the source by http://www.koarhan.blogspot.com and this blog will be updated every week::..