Ketika Beramal Tanpa dengan Ilmu
Sebagai seorang muslim tentu setiap kali mendirikan shalat lima waktu,
atau shalat-shalat yang lainnya. Dia selalu meminta ditunjukan shirathul
mustaqim. Yaitu jalan lurus yang telah lama dilalui oleh orang-orang
yang telah diberi nikmat, dan dijauhkan dari jalan orang-orang maghdhubi
`alaihim (orang-orang yang Engkau murkai), juga jalan orang-orang
dhallin (orang-orang yang sesat). Dalam tafsiran, dua kelompok diatas
disebutkan , bahwa orang-orang mahgdhubi ‘alaihim adalah Yahudi,
sedangkan orang dhallin adalah Nashara.
Berkata Ibnu Katsir rahimahullah,”Dan perbedaan antara dua jalan -yaitu
agar dijauhi jalan keduanya-, karena jalan orang yang beriman
menggabungkan antara ilmu dan amal. Adalah orang Yahudi kehilangan amal,
sedangkan orang Nashrani kehilangan ilmu. Oleh karenanya, orang Yahudi
memperoleh kemurkaan dan orang Nashrani memperoleh kesesatan.
Barangsiapa mengetahui, kemudian tidak mengamalkannya, layak mendapat
kemurkaan. Berbeda dengan orang yang tidak mengetahui. Orang-orang
Nashrani, ketika mempunyai maksud tertentu, tetapi mereka tidak
memperoleh jalannya, karena mereka tidak masuk sesuai dengan pintunya.
Yaitu mengikuti kebenaran. Maka, jatuhlah mereka ke dalam kesesatan.”
Kamis, 06 Desember 2012
Marah yang Terpuji
Bagaimanakah marah yang terpuji ?
Dalam dunia ini, biasanya manusia mengalami ketidaksabaran dan kemarahan. Terutama pada saat seseorang merasa ada gangguan yang menimpanya. Atau ketika ingin membalas gangguan yang telah menimpanya. Baik berkaitan dengan hati, badan, harta, kehormatan, atau lainnya.
Dan kemarahan itu sering menimbulkan perkara-perkara negatif, berupa perkataan maupun perbuatan yang haram.
Tetapi sesungguhnya tidaklah semua kemarahan itu tercela, bahkan ada yang terpuji.
MARAH YANG TERCELA
Seseorang yang marah karena perkara-perkara dunia, maka kemarahan seperti ini tercela.
Oleh karenanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menasihati seseorang dengan berulang-ulang supaya tidak marah.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِي اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْصِنِي قَالَ لَا تَغْضَبْ فَرَدَّدَ مِرَارًا قَالَ لَا تَغْضَبْ
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, bahwa seorang laki-laki berkata kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam,“Berilah wasiat kepadaku.” Nabi menjawab,“Janganlah engkau marah.” Laki-laki tadi mengulangi perkataannya berulang kali, beliau (tetap) bersabda,“Janganlah engkau marah.”
[HR Bukhari no. 6116]
Dalam dunia ini, biasanya manusia mengalami ketidaksabaran dan kemarahan. Terutama pada saat seseorang merasa ada gangguan yang menimpanya. Atau ketika ingin membalas gangguan yang telah menimpanya. Baik berkaitan dengan hati, badan, harta, kehormatan, atau lainnya.
Dan kemarahan itu sering menimbulkan perkara-perkara negatif, berupa perkataan maupun perbuatan yang haram.
Tetapi sesungguhnya tidaklah semua kemarahan itu tercela, bahkan ada yang terpuji.
MARAH YANG TERCELA
Seseorang yang marah karena perkara-perkara dunia, maka kemarahan seperti ini tercela.
Oleh karenanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menasihati seseorang dengan berulang-ulang supaya tidak marah.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِي اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْصِنِي قَالَ لَا تَغْضَبْ فَرَدَّدَ مِرَارًا قَالَ لَا تَغْضَبْ
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, bahwa seorang laki-laki berkata kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam,“Berilah wasiat kepadaku.” Nabi menjawab,“Janganlah engkau marah.” Laki-laki tadi mengulangi perkataannya berulang kali, beliau (tetap) bersabda,“Janganlah engkau marah.”
[HR Bukhari no. 6116]
Berkatalah Jujur jangan ada kebohongan
Berkatalah Jujur jangan ada kebohongan
Wahai Sahabat Blogger Muslimin wal Muslimat, marilah kita tingkatkan taqwa kepada Allah Azza wa Jalla. Marilah kita menjadi orang-orang yang jujur, berlaku baik kepada Allah Azza wa Jalla dan kepada seluruh makhluk, jika kita memang benar-benar orang yang beriman. Hendaklah kita berlaku jujur, karena kejujuran mengantarkan kepada kebaikan, dan kebaikan mengantarkan kita kepada surga.
Setiap majelis merasa senang apabila mereka disebut, dan hati dengan lapang menerima setiap kali mereka membawa berita. Mereka memperoleh buah kejujuran mereka di dunia dan di alam kubur. Apabila mereka di kumpulkan, setiap lisan selalu mengucapkan kata pujian bagi mereka. Hati mereka dipenuhi rasa cinta dan persaudaraan. Dan kejujuran itu mencakup kejujuran dalam keyakinan, ucapan dan perbuatan.
Jujur dalam keyakinan maksudnya adalah keikhlasan seseorang dalam beramal. Ia tidak mengerjakan amalan karena riyâ‘ ataupun sum‘ah. Adapun jujur dalam ucapan, maksudnya dia jujur dengan berita yang disampaikan serta ucapannya sesuai dengan kenyataan. Dia tidak memberikan kabar berita yang menyelisihi kenyataan/realita, baik ketika berbicara serius maupun senda gurau; baik ketika senang maupun sempit. Dia selalu menyampaikan berita dalam keadaan sempit maupun lapang; dalam keadaan marah maupun ridha, dalam seluruh transaksinya muamalahnya, baik berupa sewa menyewa maupun jual beli.
Minggu, 02 Desember 2012
Nabi Khidir as
Nabi Khidir as
Al-Khiḍir adalah seorang nabi
misterius yang dituturkan oleh Allah dalam Al-Qur'an dalam Surah
Al-Kahfi ayat 65-82. Selain kisah tentang nabi Khidir yang mengajarkan
tentang ilmu dan kebijaksanaan kepada Nabi Musa asal usul dan kisah
lainnya tentang Nabi Khidir tidak banyak disebutkan.
Al-Khiḍr secara harfiah berarti 'Seseorang yang Hijau' melambangkan kesegaran jiwa, warna hijau melambangkan kesegaran akan pengetahuan “berlarut langsung dari sumber kehidupan.” Dalam literature tasawuf, dikatakan bahwa Khidr memiliki telah diberikan sebuah nama, yang paling terkenal adalah Balyā bin Malkān.
Nabi Khidr dianggap sebagai salah satu nabi dari empat nabi dalam kisah Islam dikenal sebagai ‘Sosok yang tetap Hidup’ atau ‘Abadi’. Tiga lainnya adalah Nabi Idris , Nabi Ilyas , dan Nabi Isa. Nabi Khidir hidupnya abadi hingga hari Kiamat, karena ia dianggap telah meminum air kehidupan. Ada beberapa pendapat yang menyatakan bahwa Khidr adalah masih sama dengan seseorang yang bernama Elia.Ia juga diidentifikasikan sebagai St. George. Diantara pendapat awal para cendikiawan Barat, Rodwell menyatakan bahwa “Karakter Khidr dibentuk dari Jethro.”
Dalam kisah literatur Islam, satu orang bisa bermacam-macam sebutan nama dan julukan yang telah disandang oleh Khidr. Beberapa orang mengatakan Khidr adalah gelarnya; yang lainnya menganggapnya sebagai nama julukan. Khidr telah disamakan dengan St. George, dikenal sebagai “Elijah versi Muslim” dan juga dihubungkan dengan Pengembara abadi. Para cendikiawan telah menganggapnya dan mengkarakterkan sosoknya sebagai orang suci, nabi, pembimbing nabi yang misterius dan lain lain
Bahwa Nabi Khidir itu berumur panjang dan masih hidup sampai sekarang masih diyakini sebagian besar kaum muslimin pada umumnya, khususnya umat muslimin Islam tradisional di Indonesia.Kisah-kisah tentang Nabi Khidir ii terus menarik perhatian semua orang karena keunikannya.
Berikut ini di tuturkan kisah asal mula Nabi Khidir bisa berumur panjang, walau semua itu tidak lepas dari kehendak Allah SWt.
Kisah ini diriwayatkan ole Ats-tsa labi dari imam Ali, yang bermula dari Raja Iskandar Zulkarnain yang disebut The Great Alexander (Iskandar yang agung). Sebutan The Great Alexander kepada Raja Iskandar Zulkarnain karena beliau adalah seorang kaisar yang mampu menaklukkan dunia barat dan timur.Beliau disegani dan ditakuti orang di seluruh dunia pada zamannya.Walau demikian, posisi ini tidak menjadikan beliau sombong, beliau adalah salah seorang raja yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT.
Nabi Syits as
Nabi Syits
as
Setelah
terbunuhnya Habil oleh saudaranya, Qabil, kemudian Siti Hawa melahirkan anak
kembar lagi. Yang laki-laki diberi nama Syits (dalam bahasa Arab dan ‘Ibrani)
atau Syats (dalam bahasa Suryani). Sedangkan yang perempuan diberi nama
‘Azura.
Pengarang kitab Qasas al-Anbiya (hal. 59) menyebutkan bahwa setelah menderita sakit selama 11 hari, Nabi Adam wafat. Ketika masih sakit, Nabi Adam berwasiat kepada Syits untuk menggantikan posisi kepemimpinannya. Nabi Adam juga mengingatkan Syits untuk menjaga kerahasiaan pelimpahan mandat ini agar jangan sampai diketahui oleh Qabil, si pendengki.
Menurut keterangan Ibnu ‘Abbas, ketika Syits dilahirkan, Nabi Adam sudah berusia 930 tahun. Nabi Adam sengaja memilih Syits sebab anaknya yang satu ini memiliki kelebihan dari segi keilmuan, kecerdasan, ketakwaan dan kepatuhan dibandingkan dengan semua anaknya yang lain.
Jam Kerja Pada Organ Tubuh Manusia
Jam Kerja Pada Organ Tubuh Manusia
Banyak sekali orang yang masih sering begadang yang pada akhirnya banyak
timbul penyakit akibat kebiasaan begadang itu. Atau banyak anak yang
susah tidur dan sering mengantuk dalam pelajaran di sekolah. Hal-hal
seperti itu disebabkan karena mereka kurang memiliki pemahaman terhadap
jam kerja organ tubuh kita. Organ tubuh kita mempunyai jam kerja
sendiri–sendiri.
Setiap Organ tubuh memiliki waktu piket. Menurut ilmu Traditional
Chinese Medicine (TCM), ada 12 organ utama dalam tubuh kita, yakni
paru-paru, usus besar, lambung, limpa, jantung, usus kecil, kantung
kemih, ginjal, selaput jantung, tiga pemanas, kandung empedu, dan hati.
Untuk itu mari kita simak jadwal berikut :
Kasih Sayang Terhadap Makhluk
Kasih Sayang Terhadap Makhluk
عن عبدالله بن عمر رضى الله عنهما قال
رسول الله صلى الله عليه سلم :
الراحمون يرحمهم الرحمن إرحموامن فى الأ
رض ير حمكم من فى السماء
artinya:
diriwayatkan dari Abdullah bin 'Umar ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: "Orang-orang yang bersifat kasih sayang, mereka disayangi Tuhan Yang Maha Pemurah. Maka hendaklah kamu msemua menyayangi makhluk yang ada dibumi, niscaya makhluk dilangit menyayangi kamu."
Hikayat: Kasih Sayang Umar ra. Terhadap Burung
Pada suatu hari, Umar bin Khottob ra. bepergian di kota Madinah. Tiba-tiba ia melihat anak kecil sedang menggenggam seekor burung pipit untuk bermain-main. Karena kasih sayang Umar ra. terhadap burung tadi, maka seketika burung itu dibeli oleh Umar dan dilepaskannya. Setelah Umar ra. wafat, mayoritas para sahabat bermimpi berjumpa dengan Umar ra. dan bertanya.
Langganan:
Postingan (Atom)
